Sudut
sepi, kala itu ...
Kembali
aku merindukanmu
Membiarkan
angin malam pembawa rindu, menusukku
Menancap
disuatu sisi kosong yang kunamai hati
Berputar
mengelilingi ruangan seperti roda gigi
Kubangan hening yang terbentuk,
Membawa
Aku berlaut tak berarah
Menyesatkan
Aku tanpa nahkoda, diiringi arus rindu yang terus menerjang
Membawa
Aku terbang ke dalam khayal tinggi
Membawa
Aku yang tanpa sayap, berkelana ke sebuah negeri tanpa penghuni
Dan
dikeheningan itu,
Bayanganmu
lah yang hadir di bibir ilusiku
Suara
indahmu lah yang mengalun semu, di pucuk telingaku
Nada
nada, berdansa tak tersirat
Berlomba
mengartikan kata rindu yang menyesak
Dari
Purnama kepada Surya,
Dia
kepada Dirinya,
Aku
kepada Kamu.
Dan
Malam pun telah berkata sama
Purnamanya
merindukan cahaya
Purnamanya
merindukan dirinya
Purnamanya
merindukan sosok-'nya'
Tiap
malam,
Purnamanya
menyongsong berat rindu
Tiap
malam,
Purnamanya
menahan berat rindu
Purnamanya
selalu merindu
Ditemani
gundah, resah dan gelisah
Namun ia
tetap merindu,
Hingga
sosoknya hadir dan bersedia membangun kisah
